Fandi PBA

Rabu, 06 Agustus 2025

Kebaikan harus disegerakan

- Jika engkau melihat seekor semut terpeleset jatuh di air, angkat dan tolonglah!

Barangkali itu penyebab ampunan bagimu di Akhirat.

- Jika kau jumpai batu kecil di jalan, yang bisa mengganggu jalan sesamamu. Singkirkan !

Barangkali itu bisa menjadi penyebab dipermudahnya jalanmu menuju surga.

- Jika engkau jumpai anak Ayam terpisah dari induknya. Ambil dan susulkan dia dengan induknya.

Semoga iya menjadi penyebab Allah mengumpulkan dirimu dan keluargamu kelak di Akhirat kelak

- Jika engkau bukan seorang yang banyak menguasai ilmu Agama.

Setidaknya ajarkanlah alif, ba, ta kepada anak-anakmu, setidaknya itu bisa menjadi amal jariyah untukmu yang takkan putus pahalanya, meski engkau berada di alam kuburmu.

- Dan jika engkau menemui seseorang yang engkau cintai, halalkan dengan tekad dan akad!. Tinggalkan saja jika hanya cuma bermodal mawar dan coklat.

Minggu, 11 Desember 2022

KIAT-KIAT ISTIQAMAH DI ATAS KETAATAN DAN KEBENARAN

 نصيحتنا لهذا الشاب الذي هو في اتجاه سليم إن شاء الله:

أولاً: أن يسأل الله الثبات دائماً، والصواب.
ثانياً: أن يكثر من قراءة القرآن بتدبُّر؛ لأن هذا القرآن له أثر كبير على القلب، إذا قرأه الإنسان بالتدبُّر.
ثالثاً: أن يحرص على ملازمة الطاعات، وألا يمل أو يكسل، فإن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم استعاذ من العجز والكسل.
رابعاً: أن يحرص على مصاحبة الأخيار، ويبتعد عن مصاحبة الأشرار.
خامساً: أن ينصح نفسَه حينما تؤثر هذه النفس عليه وتقول له: إن المدى بعيد، والطريقَ طويل، فلينصح نفسه وليثبُت؛ لأن الجنة حُفَّت بالمكاره، والنار حُفَّت بالشهوات.
سادساً: أن يبتعد عن قرناء السوء، حتى ولو كانوا أصحاباً له من قبل؛ لأن قرناء السوء يؤثرون عليه، ولهذا قال النبي عليه الصلاة والسلام: (مَثَلُ الجليس السوء كنافخ الكير؛ إما أن يحرق ثيابك، وإما أن تجد منه رائحة خبيثة)" انتهى .
فضيلة الشيخ محمد بن عثيمين رحمه الله .
"لقاءات الباب المفتوح" (1/153) 





Nasihat kami kepada pemuda yang berada di arah yang baik insya Allah:

Pertama: Selalu memohon kepada Allah agar diberi ketetapan (diatas agama Islam) dan kebenaran.
Kedua: memperbanyak membaca Al-Qur’an dengan kontemplasi (tadabbur). Karena Alquran ini memiliki pengaruh yang besar di hati, jika seseorang membacanya dengan kontemplasi (tadabbur).
Ketiga: Harus rajin beribadah, dan tidak bosan atau malas, karena Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan keluarganya berlindung dari ketidakmampuan dan kemalasan.
Keempat: Harus bergaul dengan orang-orang yang baik, dan menjauh dari pergaulan orang-orang yang buruk.
Kelima: Menasihati dirinya sendiri ketika diri tersebut mempengaruhinya dan mengatakan kepadanya: Jangka waktu dan jalannya masih panjang, jadi biarkan dia menasihati dirinya sendiri dan membuktikan; Karena Surga dikelilingi oleh kesulitan, dan Neraka dikelilingi oleh Syahwat.
Keenam: Dia harus menjauhi teman-teman yang buruk, bahkan jika mereka adalah teman-temannya yang dulu. Karena sahabat yang buruk dapat mempengaruhinya, dan untuk alasan inilah Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

Senin, 13 Juni 2022

Hari Kepergian Abah Menuju Sang Kholiq

Hari itu adalah hari di mana aku kehilangan sosok laki-laki yang sangat aku cintai. 

Hari itu adalah hari rabu tepatnya pada bulan November tahun 2015.

Pagi rabu yang cerah, sebelum pukul 07.00 aku bergegas untuk pergi membuka kantin di sekolah D***l A**n terlebih dahulu. Mempersiapkan segala makanan dan minuman yang akan dijual. Dan tak terasa waktu pun berjalan lebih cepat. Sudah setengah jam aku berkemas untuk mempersiapkan semuanya. Tepatnya pada pukul 07.30. Aku masih menunggu ibuku untuk datang menjaga kantin. Kurang lebih pukul 07.45 ibuku datang dengan motor beatnya. "Tinggalakan ha" Ucap ibuku dengan suara yang terengah-engah. Akupun langsung sontak berdiri dan berpamitan kepada ibuku untuk pergi kuliah di pagi itu. Dan benar nyatanya teman sekelasku sudah ada yg menjemputku. Kami pun bisa datang tepat waktu sebelum dosen datang terlebih dahulu. Yah, aku ingat perkataan ustadzah ku tempo dulu. Belajarlah untuk selau tepat waktu, hargailah waktu dan jangan sampai korupsi waktu. Dan adalagi yang bilang jangan biasakan memakai kata-kata lebih baik telat dari pada gak datang, kalo bisa tepat waktu kenapa harus telat? So, aku selalu mengusahakan untuk selalu tepat waktu. Back to story. 

Perkuliahan pun akhirnya selesai kurang lebih pada pukul 08.45. Lagi-lagi aku diantar oleh temanku tadi yaitu si Ani dan kali ini dikuti oleh salah satu temanku juga namanya Husna. Kata mereka, mereka sengaja mampir untuk sekalian makan dan minum di kantin ibuku. Di saat di kantin ibuku izin pulang ke rumah dahulu dan meninggalkanku dengan kedua temanku. Kami pun menghabiskan waktu makan dan minum bersama serta diselingi canda dan tawa. Dan tak terasa bel di sekolah itupun berbunyi. Dan itu menandakan bahwa anak-anak telah waktunya istirahat. Ani dan Husna pun sontak langsung berdiri dan berpamitan karena melihat anak-anak yang sudah kocar kacir berlarian menuju ke arah kantin. Aku hanya menghela nafas karena kepergian mereka yang begitu mendadak.

"Yah mereka pergi" gumamku dalam hati dengan rasa sedikit kecewa. Padahal aku berharap mereka mau membantuku untuk melayani anak-anak Mts ini. Tapi ya sudahlah toh juga hak mereka. 

Anak-anak sudah menggerumbung di sekeliling ku. Dan mereka satu persatu berteriak dengan nama-nama minuman yang ingin mereka dapatkan. "Ka, ulun pop ice coklat" "Ka, ulun tea jus melati" "Ka ulun Gula batu" "Ka ulun coco pandan" dan bla bla bla. Mereka semua berteriak dan menuntut agar permintaan mereka segera dikabulkan. Yah mereka berebut ingin selalu didahulukan. Dan pada akhirnya akupun buka suara "Stop, kawalah bediam? Bisaae aku meolahakan" Sahutku dengan suara kesal. Mereka semuapun terdiam. Dan setelah itu tidak ada lagi yang berani berteriak-teriak dengan nada-nada ingin didahulukan. Istirahat pun berakhir tapi tidak bagiku. Aku harus kembali membersihkan segala bekas plastik-plastik es yang berserakan di sekitar kantin ibuku. Dan selain itu aku juga harus membersihkan segala gelas piring yang telah kotor karena sudah terpakai. Pukul kurang lebih sudah 09.45 dan ibuku tak kunjung juga datang. Aku sudah gelisah dan aku sudah lelah. Aku duduk di kursi pojokan kantin dan bersender ke dinding sambil menyeruput pop ice rasa coklatku. Entah kenapa aku merasa kesal pada hari itu. Dan tak lama kemudian ibuku akhirnya datang. Tanpa aba-aba aku langsung pulang ke rumah dengan berjalan kaki saja. Yah karena rumah kami tak terlalu jauh dari kantin itu. Bukan rumah tepatnya barak. Yah semenjak kami pindah ke Palangka Raya kami belum memiliki rumah. Dan lebih tepatnya kami hanya menyewa barak.


Sesampai di rumah, langkah kaki ku tiba-tiba terhenti melihat ayahku yang sedang duduk bersandar di pojokan kasur dengan bantal di pangkuannya dan Al-Qur'an di atasnya. Ayahku sedang membaca Al-Qur'an dengan suaranya yang lemah dan sangat halus bahkan hampir tidak terdengar. Aku mengurungkan niatku untuk masuk ke dalam untuk melewatinya. Aku kembali ke ruang tamu dan menangis sejadi-jadinya. Entah mengapa aku menangis melihatnya. Aku tak kuasa membendung air mataku yang bak jatuh seperti lebatnya hujan di siang bolong. Entah berapa lama aku menangis, aku menangis sampai sesenggukan. Hati yang terasa terkonyak dengan sakit, perih menyakitkan. Aku tidak tahu kenapa aku menangis seperti itu. Setelah sudah cukup lama aku menangis, aku menghapus air mataku dan ku kuatkan langkahku untuk melewatinya demi mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat djuhur yang sempat tertunda itu. Aku melewatinya tanpa meliriknya karena aku takut jikalau dia mengetahui bahwa mataku sembab karena menangis sesenggukan. Setelah sholat djuhur aku kembali menangis. Entah apa yang menghantuiku sehingga membuat ku selalu ingin menangis hari itu. Kemudian aku mengangkat kedua tanganku dan meminta kepada Rabb ku untuk kesembuhan ayahku.


Singkat cerita, Pukul sudah menunjukkan 15.00 dan itu artinya aku harus pergi mengajar TPA di sekolah yang di mana ibuku juga berjualan di sana. Sebelum berangkat aku berpamitan kepada Ayahku dengan mencium telapak tangannya yang saat itu terasa sangat dingin. Tapi aku mengacuhkannya aku hanya berharap dia selalu baik-baik saja. Dan sebelum aku benar-benar pergi mengajar aku juga menyempatkan membantu ibuku  untuk membuka warung dengan gerobak seadanya di dekat sekolah itu. Yah kalo sore sampai malam ibuku juga berjualan dengan gerobak di depan sekolah itu. Yah itu karena berjualan di kantin hanya boleh sampai siang. Setelah semuanya siap aku bergegas untuk pergi ke kelas untuk bertemu anak-anak. Anak-anak yang selalu membuatku merasa nyaman. Bukan cuma karena anak-anaknya tapi juga karena aku suka mengajarnya. Mengajar selalu bisa membuatku merasa tenang dan nyaman ditambah lagi dengan anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Dan selain itu aku juga harus mencari uang tambahan untuk membantu ibuku agar hidup kami berkecukupan. Di tengah-tengah pembelajaran tiba-tiba ada seorang wanita yang datang dengan tergopoh-gopoh dan nafas yang tersengal-sengal. "Mbak Risa, itu, hhhh, hhhh,,, bapaknya mbak Risa,,," "Kenapa mbak" tanya Ani teman sekelasku sekaligus teman ngajarku. "Dibawa ke rumah sakit" sahutnya dengan masih tersengal-sengal.


Aku masih dengan santai dengan mengajar anak yang ada di depanku. Tapi temanku dan lebih tepatnya sahabatku dia sontak langsung meneriakiku. "Sa, lakasi tinggalakan ja. Biar aku ja melajari buhannya berataan". Akupun sontak langsung berdiri seakan-akan baru menyadari bahwa Ayahku telah dibawa ke rumah sakit. Aku langsung keluar kelas dengan menggendong anak batita yang tak pernah mau turun dari gendonganku. "Sa pakai motorku ja nyaman lakas" Ucap sahabatku kembali. Akupun bergegas menuju ke rumah acilku yang lokasinya juga tak jauh dari sekolah itu. Sesampainya di sana tiba-tiba handphone ku bergetar di saku celanaku. "Drettt, drett" ternyata ibuku yang memanggil. Aku pun mengangkatnya dengan tangan yang sudah mulai gemetar dan panas dingin. Aku takut jikalau terjadi sesuatu dengan Ayahku. Tapi di sebrang sana hanyalah tedengar isak tangis ibuku. "Ma" Ucapku perlahan untuk menyadarkannya. "Sa, Abah km sudah kededa, hiks, hiks" Dengan reflek handphone yang tadi di telingaku sontak jatuh perlahan dengan hati yang berusaha untuk dilapangkan serta air mata yang ditahan-tahan. "Kenapa Sa?" Tanya acilku penasaran. Aku menarik napas dengan perlahan "Abah meninggal Bu" Sahutku dengan suara gemetar dan air mata yang sudah tidak tertahankan. "Innalilahi wa innailaihi raa'ji'un" Ucap acilku yang tak kalah gemetar. Acilku juga menangis. Begitu pula aku. Saat itu aku merasa sangat terpukul terasa hancur. Sosok laki-laki yang selalu aku banggakan kini telah pergi untuk selama-lamanya. Aku berjalan dengan gontai mendatangi kedua adikku yang saat itu juga ada di rumah acilku untuk mengabarkan bahwa Abah telah meninggal dunia. Sontak adikku yang pertama langsung menangis sejadi-jadinya tidak seperti adikku yang kecil yang saat itu dia masih duduk di bangku Tk 0 kecil yang artinya dia belum mengerti bahwa Abah telah meninggal dunia. Ku dekati dia perlahan ku tatap wajahnya yang masih sangat polos dan ku beritahu dia suara yang berusaha aku lapangkan dengan air mata yang aku tahan.


"Riz, Abah sudah kededa, Abah sudah meninggal. Abah kda lawan kita lagi" Sontak Rizka langsung menangis sejadi-jadinya seraya memanggil-manggil kata Abah. Aku pun keluar meninggalkan mereka dengan tatapan kosong tidak pernah menyangka bahwa Abah telah pergi untuk selama-lamanya. Setelah sedikit mendapat ketenangan akupun menelpon ketua kelasku untuk minta tolong agar mengabarkan kepada teman-teman sekelas sekalian bahwa Abahku telah meninggal dunia.




Jumat, 15 Januari 2021

YASMIN; SANG BUAH HATI

YASMIN; SANG BUAH HATI


Palangka Raya, 13 Januari 2020

Harisa Nur Madina 


Hari di mana hidup terasa semakin indah ketika hadirnya sang buah hati di dunia. Ya, Allah telah menghadiahi sang buah hati dalam pernikahan kami. Dialah anak kami yang merupakan anugerah dan titipan dari Allah untuk kami yang di mana kami harus menjaganya dan mendidiknya dengan penuh keimanan.


Selebihnya lagi untuk seorang ibu, Ibu diberi gelar sebagai guru pertama bagi anak-anaknya. Ibu adalah madrasah utama sebelum mereka lebih jauh mengenal dunia.  Maka dari itu seorang ibu harus lebih giat dalam mendidik anak-anaknya dengan iman dan takwa.


Tepat pada tanggal 04 Juni 2018 anak pertama kami terlahir ke dunia yang berjenis kelamin perempuan. Kami memberikan nama dengan sebutan Yasmin Huriyatul Jannah. Kami berharap dengan memberi nama itu Yasmin bisa menjadi bidadari surga nantinya dan tak lupa membawa orang tuanya. Ya Huriyatul Jannah diambil dari kata bahasa Arab yang di mana artinya adalah bidadari surga. Dengan harapan Yasmin benar-benar akan menjadi bidadari surga. 


Sejak di dalam kandungan kami sudah membiasakan Yasmin untuk mendengarkan bacaan Al-Qur'an entah itu dari speaker, ayahnya dan aku sendiri sebagai ibunya. Tapi lebih sering dari aku ibunya yang sedang mengandungnya untuk membacakan untuknya. Selain itu aku selalu membawa Yasmin    pergi ke sekolah untuk mengajarkan anak-anak membaca Al-Qur'an serta mengajarkan para mahasiswi belajar tajwid setiap minggunya. Dan yang pasti sholat lima waktu tak pernah ku tinggalkan selama mengandungnya. Aku dan suamiku selalu mengajaknya berbicara dan mendo'akan untuknya agar dia menjadi anak yang Sholehah dan penghafal Qur'an dan banyak lagi lainnya. "Yasmin, jadi anak yang Sholehah nak lah, jadi penghafal Qur'an dan jadi anak yang Darmawati" Ucap suamiku yang kala itu masih menjadi calon sang ayah. Sampai pada akhirnya Yasmin terlahir ke dunia.


Semenjak dia masih bayi pun kami selalu mendengarkannya bacaan Al-Qur'an. Dan tiba di Mana dia bisa mengambil Al-Qur'an dengan sendirinya beserta rehalnya. Dia seolah-olah membaca Al-Qur'an yang padahal bacaannya masih belum terlalu jelas. "       " Ucap Yasmin saat itu dengan suaranya yang sangat menggemaskan. Setiap hari dia selalu membaca Al-Qur'an dan tiba di mana aku memberikannya buku tilawati yakni buku ngaji khusus anak-anak beserta tunjuknya. Dia sangat senang, dia semakin rajin membacanya. Entah itu pagi, siang, sore dan malam. Dia tak mengenal waktu untuk membacanya saking senangnya. Dan seiring berjalannya waktu Yasmin sudah mulai mengikuti dalam mengerjakan sholat lima waktu. Walau gerakannya belum sempurna namun itu sudah menjadi pertanda bagus untuk ke depannya. Dan ternyata memang benar bahwa anak-anak lebih cenderung mengikuti perbuatan kita. Maka dari itu berbuatlah yang baik-baik saja.


Hari demi hari, bulan demi bulan Yasmin semakin berkembang. Dari yang dia mengaji yang tak jelas bacaannya sampai pada akhirnya dia bisa membaca ta'awudz dan basmalah. Dan itu sudah membuat kami sangat senang mendengarnya. "Yasmin, dangarkan mamalah, kena Yasmin umpati" ( Yasmin, coba dengarkan mama. Nanti Yasmin ikuti ya)

"A'udzubillahiminassyaithaa nirrajiim, bismillahirrahmanirrahim" Ucapku dengan menggunakan nada rost. Ya dengan harapan Yasmin bisa membaca ta'awudz basmalah dengan baik. Tanpa dipinta Yasmin langsung menirukannya dengan kepalanya yang ikut serta bergoyang ke kiri dan ke kanan. "A uuduillah nassyaithoo ajim, laahi ahiim" Ucapnya dengan suara yang masih sangat menggemaskan. Ya begitulah dia membacanya. Masih belum terlalu sampai dan masih belum terlalu lengkap. Tapi tak mengapa itulah perkembangannya. Dari yang awalnya dia hanya bisa membacanya dengan sebutan "bilaah ajiim, laah ahiim". 

Tapi semua itu tak membuat kami sebagai orang tua berhenti untuk mengajarkannya dalam membaca Al-Qur'an. Setiap hari kami berusaha untuk meluangkan waktu untuk mengajarinya dan membaca surah-surah pendek bersamanya. Kami juga mengajarkannya cara berwudhu dan sholat lima waktu setiap harinya



Selasa, 29 Desember 2020

Abah, Risa Sudah Sarjana

Oleh : Harisa Nur Madina


Ada cerita dibalik kisah sarjana

Sebelum kuliah dulu Abah pernah bilang "Risa nanti kalo kuliah jangan ikut keluarga. Nanti bakal sibuk bantu², ya memang gitu harus bantu² kalau ikut keluarga. Jadi Abah maunya Risa fokus kuliah aja. Jadi biar ngekos aja. Dan gak usah kerja. Jangan kuliah sambil kerja. Nanti selesai kuliahnya lama".

Tapi nyatanya Abah jatuh sakit ketika pindah ke Palangka Raya dan sempat ada kebimbangan dari mama dan keluarga untuk melanjutkan sekolahku ke jenjang menuju sarjana.

Saat itu Abah sedang mengalami gagal ginjal. Abah hanya bisa berbaring lemah di atas kasurnya. Saat itu kami sedang memperbincangkan apakah aku harus kuliah ataupun tidak. Ada yg menyarankan bahwa kuliahnya ditunda saja. Kerja dulu biar uang yang buat kuliah dipakai buat pengobatan Abah terlebih dulu. Untuk jelasnya buat rawat jalan dan cuci darah. Lalu mamaku berujar. "Kayapa Sa mun kuliahnya tahun kena ja (Bagaimana Sa kalau kuliahnya tahun depan saja)?". Saat itu aku bingung ingin menjawab apa. Di satu sisi aku ingin tetap berkuliah. Dan di satu sisi aku ingin Abahku bisa berobat dan sembuh seperti sedia kala. "Biar duitnya kawa san dipakai Abah ikm rawat jalan (biar uangnya bisa digunakan untuk rawat jalan Ayah)". Lanjut mama lagi dengan suara yang serak.

Aku hanya diam menunduk, memikirkan jawaban yang saat itu berat untuk diungkapkan. Namun tak lama, Abahku tiba² buka suara. "Biar aja uangnya buat Risa kuliah aja, jangan kerja dulu, biar Risa bisa sarjana. Biar Abah rawatnya di rumah aja, minum obat-obatan herbal dan Abah biar bisa bantu-bantu di rumah dan kalo Abah sehat Abah bisa langsung kerja, toh yang rawat jalan dan cuci darah aja kalo sudah waktunya meninggal, meninggal to?" Ucap Abah dengan suara yang lemah. Saat Abah buka suara aku langsung mengangkat kepalaku dan menatap ke arahnya dengan linangan air mata. "Terimakasih Abah" Gumamku dalam hati. "Do'akan aja Abah bisa sembuh, biar Risa sekolah aja sampai bisa jadi sarjana" lanjutnya lagi. Sehingga membuat air mataku tak tertahankan untuk tidak keluar. Di saat itu Abah seakan-akan mempertaruhkan nyawanya untukku agar aku tetap bisa kuliah untuk meraih gelar sarjana. Seiring berjalannya waktu Abah sehat kembali namun tidak seperti dahulu lagi. Kadang masih sakit-sakitan. Apalagi semakin hari Abah semakin kurusan. Dan Abah tetap memikirkan aku, ibuku dan adik²ku. Dan Abah tetap berjuang bagaimana pun caranya dia tetap berusaha melakukan aktivitas yang tak seharusnya dia lakukan. Singkat cerita.

Waktu pertama kali kuliah aku belum mempunyai laptop seperti teman²ku pada umumnya. Ingin rasanya aku meminta untuk membelinya. Namun aku tak kuasa untuk mengutarakannya. Dan untungnya ada netbook yang dipinjamkan oleh adik kandung dari ibuku. Dan Abah mungkin menyadari bahwa aku memiliki rasa ingin kepunyaan untuk membeli laptop. Tiba² Abah berujar. "Nanti kalo Abah punya uang, nanti Abah belikan laptop". Ujarnya dengan lemah lembut. "Inggih Bah" sahutku dengan tersenyum girang. Sudah tidak sabar rasanya aku ingin mempunyai laptop.  Namun nyatanya Abah pergi terlebih dahulu untuk selamanya. Meninggalkan kita untuk selamanya. Di saat itu aku benar² merasa hancur, merasa terpukul, merasa sangat kehilangan akan orang yang sangat aku cintai. 

Aku merasa bersalah, jikalau dulu aku menunda kuliahku mungkin tidak akan seperti ini. Namun aku teringat perkataannya tempo dulu. "Kalo sudah waktunya meninggal, meninggal to." Mungkin memang sudah waktunya jikalau Abah pergi untuk selamanya.

Dan dari saat itulah aku berjuang untuk tetap bertahan di perkuliahan. Agar aku bisa menggapai cita² ku untuk menjadi seorang sarjana dan yang pasti untuk mengabulkan keinginan Abah yang ingin melihat anaknya bisa di wisuda menjadi sarjana. Namun Risa minta maaf jikalau Risa kuliah sambil bekerja. Karena demi meraih gelar sarjana Risa harus bekerja dan selain itu Risa bekerja untuk mencukupi perekonomian untuk keluarga. Namun Abah jangan khawatir kuliah tetaplah nomor satu dan bekerja itu nomor dua. Dan Risa juga selalu berusaha bahwa akan mendapatkan nilai di atas rata². Yaaa sesambilan buat cari beasiswa. Seperti Abah bilang dulu. "Rajin² belajarnya biar nanti bisa dapat beasiswa" Dan Alhamdulillah Allah beri kemudahan Risa bisa dapat beasiswa prestasi setiap tahunnya. Dan pada akhirnya pada tanggal 04 Desember 2019 tahun lalu Risa di wisuda, dan sah menjadi sarjana. Ingin rasanya saat itu aku berteriak kepada dunia bahwa Risa anak Abah yang pertama telah sah menjadi sarjana. Terimakasih untuk Abah dan mama yang selalu ada untuk Risa. Walau banyak cerita dibalik kisahku menjadi sarjana namun aku bangga aku bisa lulus dengan tepat pada waktunya. Dan aku yakin Abah juga pasti bangga mendengar anaknya sudah sah menjadi sarjana. Dan Abah juga pasti bangga bahwa dia mempunyai seorang menantu yang saat itu menjadi wisudawan terbaik satu dari yang lainnya. Sayangnya Abah belum pernah bertemu dengannya. Yaaa kami hanya bisa berdo'a, semoga Abah tenang di sana, do'a Risa selalu terbaik untuk Abah. Semoga segala kebaikan Abah dibalas Allah dengan surga🤲🏻 Aamiin. Kami semua merindukanmu.


Palangka Raya, 28 Desember 2020

Kebaikan harus disegerakan

- Jika engkau melihat seekor semut terpeleset jatuh di air, angkat dan tolonglah! Barangkali itu penyebab ampunan bagimu di Akhirat. - Jika ...