Fandi PBA

Senin, 13 Juni 2022

Hari Kepergian Abah Menuju Sang Kholiq

Hari itu adalah hari di mana aku kehilangan sosok laki-laki yang sangat aku cintai. 

Hari itu adalah hari rabu tepatnya pada bulan November tahun 2015.

Pagi rabu yang cerah, sebelum pukul 07.00 aku bergegas untuk pergi membuka kantin di sekolah D***l A**n terlebih dahulu. Mempersiapkan segala makanan dan minuman yang akan dijual. Dan tak terasa waktu pun berjalan lebih cepat. Sudah setengah jam aku berkemas untuk mempersiapkan semuanya. Tepatnya pada pukul 07.30. Aku masih menunggu ibuku untuk datang menjaga kantin. Kurang lebih pukul 07.45 ibuku datang dengan motor beatnya. "Tinggalakan ha" Ucap ibuku dengan suara yang terengah-engah. Akupun langsung sontak berdiri dan berpamitan kepada ibuku untuk pergi kuliah di pagi itu. Dan benar nyatanya teman sekelasku sudah ada yg menjemputku. Kami pun bisa datang tepat waktu sebelum dosen datang terlebih dahulu. Yah, aku ingat perkataan ustadzah ku tempo dulu. Belajarlah untuk selau tepat waktu, hargailah waktu dan jangan sampai korupsi waktu. Dan adalagi yang bilang jangan biasakan memakai kata-kata lebih baik telat dari pada gak datang, kalo bisa tepat waktu kenapa harus telat? So, aku selalu mengusahakan untuk selalu tepat waktu. Back to story. 

Perkuliahan pun akhirnya selesai kurang lebih pada pukul 08.45. Lagi-lagi aku diantar oleh temanku tadi yaitu si Ani dan kali ini dikuti oleh salah satu temanku juga namanya Husna. Kata mereka, mereka sengaja mampir untuk sekalian makan dan minum di kantin ibuku. Di saat di kantin ibuku izin pulang ke rumah dahulu dan meninggalkanku dengan kedua temanku. Kami pun menghabiskan waktu makan dan minum bersama serta diselingi canda dan tawa. Dan tak terasa bel di sekolah itupun berbunyi. Dan itu menandakan bahwa anak-anak telah waktunya istirahat. Ani dan Husna pun sontak langsung berdiri dan berpamitan karena melihat anak-anak yang sudah kocar kacir berlarian menuju ke arah kantin. Aku hanya menghela nafas karena kepergian mereka yang begitu mendadak.

"Yah mereka pergi" gumamku dalam hati dengan rasa sedikit kecewa. Padahal aku berharap mereka mau membantuku untuk melayani anak-anak Mts ini. Tapi ya sudahlah toh juga hak mereka. 

Anak-anak sudah menggerumbung di sekeliling ku. Dan mereka satu persatu berteriak dengan nama-nama minuman yang ingin mereka dapatkan. "Ka, ulun pop ice coklat" "Ka, ulun tea jus melati" "Ka ulun Gula batu" "Ka ulun coco pandan" dan bla bla bla. Mereka semua berteriak dan menuntut agar permintaan mereka segera dikabulkan. Yah mereka berebut ingin selalu didahulukan. Dan pada akhirnya akupun buka suara "Stop, kawalah bediam? Bisaae aku meolahakan" Sahutku dengan suara kesal. Mereka semuapun terdiam. Dan setelah itu tidak ada lagi yang berani berteriak-teriak dengan nada-nada ingin didahulukan. Istirahat pun berakhir tapi tidak bagiku. Aku harus kembali membersihkan segala bekas plastik-plastik es yang berserakan di sekitar kantin ibuku. Dan selain itu aku juga harus membersihkan segala gelas piring yang telah kotor karena sudah terpakai. Pukul kurang lebih sudah 09.45 dan ibuku tak kunjung juga datang. Aku sudah gelisah dan aku sudah lelah. Aku duduk di kursi pojokan kantin dan bersender ke dinding sambil menyeruput pop ice rasa coklatku. Entah kenapa aku merasa kesal pada hari itu. Dan tak lama kemudian ibuku akhirnya datang. Tanpa aba-aba aku langsung pulang ke rumah dengan berjalan kaki saja. Yah karena rumah kami tak terlalu jauh dari kantin itu. Bukan rumah tepatnya barak. Yah semenjak kami pindah ke Palangka Raya kami belum memiliki rumah. Dan lebih tepatnya kami hanya menyewa barak.


Sesampai di rumah, langkah kaki ku tiba-tiba terhenti melihat ayahku yang sedang duduk bersandar di pojokan kasur dengan bantal di pangkuannya dan Al-Qur'an di atasnya. Ayahku sedang membaca Al-Qur'an dengan suaranya yang lemah dan sangat halus bahkan hampir tidak terdengar. Aku mengurungkan niatku untuk masuk ke dalam untuk melewatinya. Aku kembali ke ruang tamu dan menangis sejadi-jadinya. Entah mengapa aku menangis melihatnya. Aku tak kuasa membendung air mataku yang bak jatuh seperti lebatnya hujan di siang bolong. Entah berapa lama aku menangis, aku menangis sampai sesenggukan. Hati yang terasa terkonyak dengan sakit, perih menyakitkan. Aku tidak tahu kenapa aku menangis seperti itu. Setelah sudah cukup lama aku menangis, aku menghapus air mataku dan ku kuatkan langkahku untuk melewatinya demi mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat djuhur yang sempat tertunda itu. Aku melewatinya tanpa meliriknya karena aku takut jikalau dia mengetahui bahwa mataku sembab karena menangis sesenggukan. Setelah sholat djuhur aku kembali menangis. Entah apa yang menghantuiku sehingga membuat ku selalu ingin menangis hari itu. Kemudian aku mengangkat kedua tanganku dan meminta kepada Rabb ku untuk kesembuhan ayahku.


Singkat cerita, Pukul sudah menunjukkan 15.00 dan itu artinya aku harus pergi mengajar TPA di sekolah yang di mana ibuku juga berjualan di sana. Sebelum berangkat aku berpamitan kepada Ayahku dengan mencium telapak tangannya yang saat itu terasa sangat dingin. Tapi aku mengacuhkannya aku hanya berharap dia selalu baik-baik saja. Dan sebelum aku benar-benar pergi mengajar aku juga menyempatkan membantu ibuku  untuk membuka warung dengan gerobak seadanya di dekat sekolah itu. Yah kalo sore sampai malam ibuku juga berjualan dengan gerobak di depan sekolah itu. Yah itu karena berjualan di kantin hanya boleh sampai siang. Setelah semuanya siap aku bergegas untuk pergi ke kelas untuk bertemu anak-anak. Anak-anak yang selalu membuatku merasa nyaman. Bukan cuma karena anak-anaknya tapi juga karena aku suka mengajarnya. Mengajar selalu bisa membuatku merasa tenang dan nyaman ditambah lagi dengan anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Dan selain itu aku juga harus mencari uang tambahan untuk membantu ibuku agar hidup kami berkecukupan. Di tengah-tengah pembelajaran tiba-tiba ada seorang wanita yang datang dengan tergopoh-gopoh dan nafas yang tersengal-sengal. "Mbak Risa, itu, hhhh, hhhh,,, bapaknya mbak Risa,,," "Kenapa mbak" tanya Ani teman sekelasku sekaligus teman ngajarku. "Dibawa ke rumah sakit" sahutnya dengan masih tersengal-sengal.


Aku masih dengan santai dengan mengajar anak yang ada di depanku. Tapi temanku dan lebih tepatnya sahabatku dia sontak langsung meneriakiku. "Sa, lakasi tinggalakan ja. Biar aku ja melajari buhannya berataan". Akupun sontak langsung berdiri seakan-akan baru menyadari bahwa Ayahku telah dibawa ke rumah sakit. Aku langsung keluar kelas dengan menggendong anak batita yang tak pernah mau turun dari gendonganku. "Sa pakai motorku ja nyaman lakas" Ucap sahabatku kembali. Akupun bergegas menuju ke rumah acilku yang lokasinya juga tak jauh dari sekolah itu. Sesampainya di sana tiba-tiba handphone ku bergetar di saku celanaku. "Drettt, drett" ternyata ibuku yang memanggil. Aku pun mengangkatnya dengan tangan yang sudah mulai gemetar dan panas dingin. Aku takut jikalau terjadi sesuatu dengan Ayahku. Tapi di sebrang sana hanyalah tedengar isak tangis ibuku. "Ma" Ucapku perlahan untuk menyadarkannya. "Sa, Abah km sudah kededa, hiks, hiks" Dengan reflek handphone yang tadi di telingaku sontak jatuh perlahan dengan hati yang berusaha untuk dilapangkan serta air mata yang ditahan-tahan. "Kenapa Sa?" Tanya acilku penasaran. Aku menarik napas dengan perlahan "Abah meninggal Bu" Sahutku dengan suara gemetar dan air mata yang sudah tidak tertahankan. "Innalilahi wa innailaihi raa'ji'un" Ucap acilku yang tak kalah gemetar. Acilku juga menangis. Begitu pula aku. Saat itu aku merasa sangat terpukul terasa hancur. Sosok laki-laki yang selalu aku banggakan kini telah pergi untuk selama-lamanya. Aku berjalan dengan gontai mendatangi kedua adikku yang saat itu juga ada di rumah acilku untuk mengabarkan bahwa Abah telah meninggal dunia. Sontak adikku yang pertama langsung menangis sejadi-jadinya tidak seperti adikku yang kecil yang saat itu dia masih duduk di bangku Tk 0 kecil yang artinya dia belum mengerti bahwa Abah telah meninggal dunia. Ku dekati dia perlahan ku tatap wajahnya yang masih sangat polos dan ku beritahu dia suara yang berusaha aku lapangkan dengan air mata yang aku tahan.


"Riz, Abah sudah kededa, Abah sudah meninggal. Abah kda lawan kita lagi" Sontak Rizka langsung menangis sejadi-jadinya seraya memanggil-manggil kata Abah. Aku pun keluar meninggalkan mereka dengan tatapan kosong tidak pernah menyangka bahwa Abah telah pergi untuk selama-lamanya. Setelah sedikit mendapat ketenangan akupun menelpon ketua kelasku untuk minta tolong agar mengabarkan kepada teman-teman sekelas sekalian bahwa Abahku telah meninggal dunia.




Kebaikan harus disegerakan

- Jika engkau melihat seekor semut terpeleset jatuh di air, angkat dan tolonglah! Barangkali itu penyebab ampunan bagimu di Akhirat. - Jika ...