Oleh : Harisa Nur Madina
Ada cerita dibalik kisah sarjana
Sebelum kuliah dulu Abah pernah bilang "Risa nanti kalo kuliah jangan ikut keluarga. Nanti bakal sibuk bantu², ya memang gitu harus bantu² kalau ikut keluarga. Jadi Abah maunya Risa fokus kuliah aja. Jadi biar ngekos aja. Dan gak usah kerja. Jangan kuliah sambil kerja. Nanti selesai kuliahnya lama".
Tapi nyatanya Abah jatuh sakit ketika pindah ke Palangka Raya dan sempat ada kebimbangan dari mama dan keluarga untuk melanjutkan sekolahku ke jenjang menuju sarjana.
Saat itu Abah sedang mengalami gagal ginjal. Abah hanya bisa berbaring lemah di atas kasurnya. Saat itu kami sedang memperbincangkan apakah aku harus kuliah ataupun tidak. Ada yg menyarankan bahwa kuliahnya ditunda saja. Kerja dulu biar uang yang buat kuliah dipakai buat pengobatan Abah terlebih dulu. Untuk jelasnya buat rawat jalan dan cuci darah. Lalu mamaku berujar. "Kayapa Sa mun kuliahnya tahun kena ja (Bagaimana Sa kalau kuliahnya tahun depan saja)?". Saat itu aku bingung ingin menjawab apa. Di satu sisi aku ingin tetap berkuliah. Dan di satu sisi aku ingin Abahku bisa berobat dan sembuh seperti sedia kala. "Biar duitnya kawa san dipakai Abah ikm rawat jalan (biar uangnya bisa digunakan untuk rawat jalan Ayah)". Lanjut mama lagi dengan suara yang serak.
Aku hanya diam menunduk, memikirkan jawaban yang saat itu berat untuk diungkapkan. Namun tak lama, Abahku tiba² buka suara. "Biar aja uangnya buat Risa kuliah aja, jangan kerja dulu, biar Risa bisa sarjana. Biar Abah rawatnya di rumah aja, minum obat-obatan herbal dan Abah biar bisa bantu-bantu di rumah dan kalo Abah sehat Abah bisa langsung kerja, toh yang rawat jalan dan cuci darah aja kalo sudah waktunya meninggal, meninggal to?" Ucap Abah dengan suara yang lemah. Saat Abah buka suara aku langsung mengangkat kepalaku dan menatap ke arahnya dengan linangan air mata. "Terimakasih Abah" Gumamku dalam hati. "Do'akan aja Abah bisa sembuh, biar Risa sekolah aja sampai bisa jadi sarjana" lanjutnya lagi. Sehingga membuat air mataku tak tertahankan untuk tidak keluar. Di saat itu Abah seakan-akan mempertaruhkan nyawanya untukku agar aku tetap bisa kuliah untuk meraih gelar sarjana. Seiring berjalannya waktu Abah sehat kembali namun tidak seperti dahulu lagi. Kadang masih sakit-sakitan. Apalagi semakin hari Abah semakin kurusan. Dan Abah tetap memikirkan aku, ibuku dan adik²ku. Dan Abah tetap berjuang bagaimana pun caranya dia tetap berusaha melakukan aktivitas yang tak seharusnya dia lakukan. Singkat cerita.
Waktu pertama kali kuliah aku belum mempunyai laptop seperti teman²ku pada umumnya. Ingin rasanya aku meminta untuk membelinya. Namun aku tak kuasa untuk mengutarakannya. Dan untungnya ada netbook yang dipinjamkan oleh adik kandung dari ibuku. Dan Abah mungkin menyadari bahwa aku memiliki rasa ingin kepunyaan untuk membeli laptop. Tiba² Abah berujar. "Nanti kalo Abah punya uang, nanti Abah belikan laptop". Ujarnya dengan lemah lembut. "Inggih Bah" sahutku dengan tersenyum girang. Sudah tidak sabar rasanya aku ingin mempunyai laptop. Namun nyatanya Abah pergi terlebih dahulu untuk selamanya. Meninggalkan kita untuk selamanya. Di saat itu aku benar² merasa hancur, merasa terpukul, merasa sangat kehilangan akan orang yang sangat aku cintai.
Aku merasa bersalah, jikalau dulu aku menunda kuliahku mungkin tidak akan seperti ini. Namun aku teringat perkataannya tempo dulu. "Kalo sudah waktunya meninggal, meninggal to." Mungkin memang sudah waktunya jikalau Abah pergi untuk selamanya.
Dan dari saat itulah aku berjuang untuk tetap bertahan di perkuliahan. Agar aku bisa menggapai cita² ku untuk menjadi seorang sarjana dan yang pasti untuk mengabulkan keinginan Abah yang ingin melihat anaknya bisa di wisuda menjadi sarjana. Namun Risa minta maaf jikalau Risa kuliah sambil bekerja. Karena demi meraih gelar sarjana Risa harus bekerja dan selain itu Risa bekerja untuk mencukupi perekonomian untuk keluarga. Namun Abah jangan khawatir kuliah tetaplah nomor satu dan bekerja itu nomor dua. Dan Risa juga selalu berusaha bahwa akan mendapatkan nilai di atas rata². Yaaa sesambilan buat cari beasiswa. Seperti Abah bilang dulu. "Rajin² belajarnya biar nanti bisa dapat beasiswa" Dan Alhamdulillah Allah beri kemudahan Risa bisa dapat beasiswa prestasi setiap tahunnya. Dan pada akhirnya pada tanggal 04 Desember 2019 tahun lalu Risa di wisuda, dan sah menjadi sarjana. Ingin rasanya saat itu aku berteriak kepada dunia bahwa Risa anak Abah yang pertama telah sah menjadi sarjana. Terimakasih untuk Abah dan mama yang selalu ada untuk Risa. Walau banyak cerita dibalik kisahku menjadi sarjana namun aku bangga aku bisa lulus dengan tepat pada waktunya. Dan aku yakin Abah juga pasti bangga mendengar anaknya sudah sah menjadi sarjana. Dan Abah juga pasti bangga bahwa dia mempunyai seorang menantu yang saat itu menjadi wisudawan terbaik satu dari yang lainnya. Sayangnya Abah belum pernah bertemu dengannya. Yaaa kami hanya bisa berdo'a, semoga Abah tenang di sana, do'a Risa selalu terbaik untuk Abah. Semoga segala kebaikan Abah dibalas Allah dengan surga🤲🏻 Aamiin. Kami semua merindukanmu.
Palangka Raya, 28 Desember 2020